Minggu, 05 Maret 2017

Poros Penggerak Roda/ Axle Shaft


Jenis-jenis Sistem Penggerak Kendaraan
Kendaraan dapat berjalan/ bergerak karena ada sistem yang memindahkan  tenaga/ momen/ putaran dari mesin ke roda-roda.  Kendaraan ditinjau dari sistem pemindah tenaganya dikelompokkan menjadi  beberapa tipe/ jenis, yaitu :
a)  Front Engine Rear Drive (FR)
Kendaraan dengan mesin di depan dan menggerakkan roda belakang dinamakan tipe  Front Engine Rear Drive (FR). Komponen-komponen sistem pemindah tenaga meliputi kopling(clutch),transmisi(transmission), drive shaft/ propeller shaft, differential, rear axle dan roda(wheel)
                                               
Gambar 1.  Sistem pemindah tenaga pada kendaraan tipe FR

b)  Front Engine Front Drive (FF)
Kendaraan dengan mesin di depan dan menggerakkan roda depan dinamakan tipe  Front Engine Front Drive (FF). Komponen-komponen sistem pemindah  tenaga meliputi : kopling (clutch), transmisi(transmission), differential, front axle dan roda (wheel).

                                                    
Gambar 2.  Sistem pemindah tenaga pada kendaraan tipe FF
c)  Rear Engine Rear Drive (RR)
Kendaraan dengan mesin di belakang dan menggerakkan roda belakang dinamakan tipe  Rear Engine Rear Drive (RR).  Pemindah tenaga kendaraan tipe ini sama dengan tipe  Front Engine Front Drive (FF). Komponen-komponen sistem pemindah tenaga meliputi : kopling (clutch), transmisi (transmissions),  differential, rear axle dan roda (wheel)
d)  Four Wheel Drive (FWD)
Kendaraan dengan mesin menggerakkan roda depan dan roda belakang dinamakan tipe  Four Wheel Drive atau  All Wheel Drive (FWD atau 4WD atau AWD). Komponen-komponen sistem pemindah tenaga meliputi : kopling(clutch), transmisi (transmission),  transfer, dan terbagi menjadi dua. Pertama ke front drive shaft (front propeller shaft),  front differential,  front axle dan roda depan (front wheel), sedangkan yang kedua ke  rear  drive shaft, rear differential, rear axle dan roda belakang (rear wheel).

                                        
Gambar 3.  Sistem pemindah tenaga pada kendaraan tipe FWD

Pada modul ini  drive shaft yang  akan dibahas adalah poros propeller dan  poros penggerak roda (axle) baik  front axle maupun  rear axle. Poros propeller dibahas pada kegiatan 1 ini, sedangkan axle dibahas pada kegiatan 2.
2) Propeller Shaft
Pada kendaraan tipe FR ( front engine rear drive) dan FWD/AWD ( four wheel drive), untuk memindahkan tenaga mesin dari transmisi ke differential, diperlukan propeller shaft atau  sering juga disebut sebagai drive shaft. Panjang pendeknya propeller shaft tergantung dari panjang kendaraan. Pada kendaraan yang panjang, propeller dibagi menjadi beberapa bagian untuk menjamin supaya tetap dapat bekerja dengan baik. Suspensi kendaraan mengakibatkan posisi  differential selalu berubah-ubah terhadap transmisi, sehingga propeller harus dapat menyesuaikan perubahan sudut dan perubahan jarak, agar tetap  mampu meneruskan putaran dengan  lancar. Mekanisme atau komponen tersebut adalah universal joint atau sering disebut U-joint.

                 
Gambar 4.   Bentuk-bentuk propeller shaft

Propeller shaft  pada umumnya terbuat dari pipa besi, karena profil pipa lebih  tahan terhadap puntiran. Dimensi poros propeller akan menentukan beban putaran yang diijinkan, yang dirumuskan sebagai berikut :
   Dimana :    
    n  :   putaran yang diijinkan (rpm)
    D   :   diameter luar (cm)
    d  :   diameter dalam (cm)
    L    :   panjang (cm) 
3) Universal joint
Kondisi jalan mempengaruhi kerja suspensi dan berakibat pada posisi  differential selalu berubah-ubah terhadap transmisi. Universal joint dipakai untuk mengatasi kondisi tersebut agar poros selalu dapat berputar dengan lancar, sehingga universal joint harus mempunyai syarat : dapat  mengurangi resiko kerusakan propeller saat poros  bergerak naik/ turun, tidak berisik atau berputar dengan lembut, konstruksinya sederhana dan tidak mudah rusak. Dilihat dari konstruksinya, universal joint dibagi dalam beberapa jenis, yaitu :

a)  Hook Joint
                                
Gambar 5.  Konstruksi Hook Joint

Pada umumnya poros propeller menggunakan konstruksi tipe ini, karena selain konstruksinya yang sederhana tipe ini juga berfungsi secara akurat dan konstan. Konstruksi hook joint adalah seperti gb. 5 di atas. Ada dua tipe hook joint yaitu  shell bearing cup type dan  solid bearing cup type. Pada tipe  shell bearing cup universal joint tidak bisa dibongkar sedangkan pada tipe  solid bearing cup bisa dibongkar. Ilustrasi konstruksi kedua tipe universal joint tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :
                                
Gambar 6.  Konstruksi hook joint tipe shell bearing cup
 
 


                                                
Gambar 7.  Konstruksi hook joint tipe solid bearing cup

b)  Flexible Joint


                          
Gambar 8.  Konstruksi Flexible Joint

Konstruksi dari universal joint model flexible joint dapat dilihat pada gambar 7 di atas.  Model ini mempunyai keuntungan tidak mudah aus, tidak berisik dan tidak memerlukan minyak/ grease.


c)  Trunion Joint
Model ini berusaha menggabungkan tipe hook joint dan slip joint, namun hasilnya masih dibawah slip joint sendiri, sehingga jarang digunakan. Konstruksinya dapat dilihat pada gambar 8 di bawah ini.
                                  
Gambar 9.  Konstruksi Trunion Joint

d)  Uniform Velocity Joint
Model ini dapat membuat kecepatan sudut yang lebih baik,  sehingga dapat mengurangi  getaran dan suara bising. Konstruksinya dapat dilihat pada gambar 9 di bawah ini.
                                 
Gambar 10.   Konstruksi Uniform Velocity Joint



e)  Slip Joint
Bagian ujung propeller yang dihubungkan dengan poros out-put transmisi terdapat alur-alur untuk pemasangan slip joint. Hal ini memungkinkan panjangnya propeller shaft sesuai dengan jarak output transmisi dengan differential. Konstruksinya dapat dilihat pada gambar 10 di bawah ini.
                                        
Gambar 11.   Konstruksi Slip Joint

4) Center Bearing
Merupakan unit yang  dipasang pada ujung propeller shaft depan (intermediate shaft)  dan menempel pada body melalui bracket. Center bearing berfungsi  sebagai tumpuan antara pada  poros  propeller  yang panjang  (3-joint type) untuk mengurangi kemungkinan poros propeller melengkung/  bengkok,  untuk meredam bunyi  dan getaran pada saat propeller shaft bekerja. 
                                       
Gambar 12.   Konstruksi Center Bearing



5) Pemeriksaan,  Servis  dan  Perbaikan  Propeller  Shaft,
Universal Joint dan Center Bearing Perawatan yang dilakukan pada propeller shaft adalah memberikan pelumasan dengan grease pada universal joint. Pemeriksaan dilakukan untuk mencegah suatu  kerusakan atau untuk memastikan penyebab suatu  keusakan. Pemeriksaan pencegahan  atau perawatan  dilaksanakan secara berkala dan rutin untuk memeriksa/ menjaga kondisi komponen dan kerjanya. Sedang  pemeriksaan guna memastikan penyebab  kerusakan  harus  dilakukan dengan betul-betul cermat dan perlu analisa kasus dan  perlu pemeriksaan komponen dengan urutan yang cepat, tepat dan benar. Berikut dicontohkan, diagram analisa dan urutan pemeriksaan:
a)  Bunyi dari propeller shaft
                         

Gambar 13.   Bagan alir diagnosis
 Pemeriksaan terhadap bunyi diperlukan pendengaran yang baik, ketelitian dan kecermatan yang tinggi, karena pada kendaraan akan terdapat sumber bunyi yang komplek sehingga kalau tidak cermat sering terkecoh pada bunyi-bunyi yang lain.







b)  Getaran dari propeller shaft
                                            
Gambar 14.   Bagan alir diagnosis

Pemeriksaan terhadap getaran dan bunyi pada  propeller shaft harus dilaksanakan secara teliti dan cermat, dengan mengangkat roda penggerak, dan menghidupkan mesin pada posisi gigi transmisi masuk. Naikkan putaran mesin secara bertahap  dan amati getaran dan bunyi dari propeller shaft.  Jika ditemukan adanya getaran  atau bunyi dari propeller shaft maka  lakukan pemeriksaan baut-bautPeriksa universal joint

Gambar 15.   Bagian–bagian poros propeller
 Pemeriksaan komponen dilakukan dengan melepas unit propeller, yakni dengan melepas baut pengikat flange yoke ke  differential dan melepaskan center bearing (pada propeller 3 joint). Setelah propeller terlepas lakukan pemeriksaan :
(1).  Kebengkokan poros propeller depan dan belakang. Dengan menggunakan  V-blok dan dial  tester  indikator ukurlah run-out poros (kebengkokan). Run-out max. = 0.8 mm
                                                            
Gambar 16.   Pemeriksaan kebengkokan poros propeller

(2).  Keausan dan kekocakan bantalan spider. 
Putar spider dan pastikan bahwa tidak ada hambatan saat berputar. Periksa juga kebebasan aksial spider bearing oleh putaran yoke ketika tertahan poros dengan kuat. Kebebasan axial max. 0.05 mm.
                                    
Gambar 17.   Pemeriksaan keausan dan kekocakan bantalan spider

(3).  Periksa clearance antara universal joint spider dan
                              
Gambar 18.   Pengukuran clearance spider bearing








(4).  Keausan dan kerusakan center support bearing  Periksalah bahwa bearing dapat berputar dengan bebas tanpa hambatan namun tidak longgar/ goyang/ kocak. 

                                           
Gambar 19.   Pemeriksaan keausan center support bearing

(5).  Pemeriksaan keausan alur-alur sleeve yoke 
Lakukan pengamatan secara visual terhadap kondisi spline. Lakukan pengujian dengan memasangkan sleeve yoke ke poros  lalu putar bolak-balik sleeve yoke dan gerakkan maju-mundur (axial).  Pastikan tidak terjadi kekocakan yang  berlebihan tetapi bisa bergerak maju-mundur dengan lancar.
                                        
Gambar 20.   Pemeriksaan keausan alur-alur sleeve yoke

(6).  Pemeriksaan keausan alur-alur ujung propeller depan
terhadap flange maupun yoke propeller belakang. Menggunakan metode yang sama dengan di atas lakukan pengecekan alur-alur ujung propeller depan terhadap flange maupun yoke propeller belakang 
                         
Gambar 21.   Pemeriksaan keausan alur-alur ujung propeller

(7).  Pemeriksaan karet  bushing maupun  penutup debu pada center bearing. Lakukan pengamatan terhadap  kondisi  karet bushing maupun karet penutup debu pada center bearing.
(8).  Pemeriksaan keseimbangan/ balance poros propeller.
Menggunakan alat  khusus  (roller instrument) lakukan pengecekan ketidak seimbangan poros propeller. Bila ditemukan tidak seimbang (un-balance) maka lakukan balancing dengan memasang bobot pemberat tertentu. Setelah pemeriksaan dan penyebab kesalahan atau kerusakan  ditemukan maka segera dilakukan perbaikan atau penggantian dengan pembongkaran.  Pada saat sebelum melakukan pembongkaran  poros propeller sebaiknya diberikan tanda pada bagian-bagian yang berpasangan (gb. 23). Pemasangan poros propeller setelah dilakukan pembongkaran harus memperhatikan tanda-tanda yang telah dibuat atau dengan memperhatikan pola pemasangan poros propeller yang terdapat pada buku manual dari kendaraan tersebut

 
                                    
  
Gambar 22.   Pemasangan U-joint model 2 joint








             
Gambar 23.   Pemasangan U-joint model 3 joint
 6) Penggantian Spider Bearing
Setelah dilakukan pemberian tanda  pada  beberapa tempat, maka langkah-langkah pembongkaran dimulai dengan prosedur sebagai berikut : 
 
a).  Pukul perlahan-lahan bearing outer race dan keluarkan
keempat snap ring dari tempatnya. Pada beberapa tipe yang menggunakan lock plate, lepaskan lock plate.
                               
Gambar 25.   Melepas snap ring dan atau lock plate

b).  Tekan keluar bearing dari tempatnya dengan menggunakan SST, atau dengan  alat penekan (mesin/ alat press).



                                   

Gambar 26.   Melepas spider bearing

c).  Jepitlah bearing outer race pada ragum dan pukul propeller shaft. Lepaskan bearing  pada sisi lainnya  dengan prosedur yang sama. 
 
Gambar 27.   Melepas spider bearing 
d).  Pasangkan dua outer race bearing yang telah dilepas ke spider sebagai tumpuan penekanan dan dengan menggunakan SST tekan keluar bearing dari yoke.
                           
Gambar 28.   Melepas spider bearing


e).  Jepitlah bearing outer race pada ragum dan pukul propeller shaft. Lepaskan bearing pada sisi lainnya dengan prosedur yang sama.
   
Gambar 29.   Melepas spider bearing
c.  Rangkuman
1). Propeller shaft (drive shaft) dipasang pada kendaraan tipe FR dan FWD untuk menghubungkan/ meneruskan putaran mesin dari transmisi ke differential.
2). Propeller shaft harus mampu meneruskan putaran mesin dari transmisi ke differential dengan lembut walaupun posisi differential selalu berubah-ubah terhadap transmisi, sehingga pada poros propeller dipasangkan universal joint dan sleeve joint.
3). Jenis-jenis  universal joint antara lain adalah  hook joint, flexible  joint, trunion joint, uniform velocity joint dan slip joint.
4). Pada poros propeller yang panjang atau yang terdiri dari 3-joint atau lebih, sebagai tumpuan antara dipasangkan center bearing untuk mencegah getaran dan bunyi serta mengurangi kemungkinan poros propeller bengkok.
5). Pemeriksaan propeller shaft meliputi pemeriksaan alur-alur sleeve joint, keausan/ kekocakan needle bearing universal joint, kebengkokan propeller shaft, keseimbangan propeller shaft, keausan/ kekocakan center bearing serta keausan dan kekerasan mur/baut flange atau yoke.

6). Pemasangan poros propeller setelah pembongkaran harus memperhatikan tanda pembongkaran yang telah dibuat.

Axle shaft atau poros penggerak roda adalah merupakan
poros pemutar roda-roda penggerak yang berfungsi
meneruskan tenaga gerak dari differential ke roda-roda. Axle
shaft pada kendaraan dibedakan menjadi dua yakni front
axle shaft (poros penggerak roda depan) dan rear axle shaft
(poros penggerak roda belakang). Pada kendaraan FF, front
axle shaft sebagai driving axle shaft, sedangkan pada
kendaraan tipe FR, rear axle shaft sebagai driving axle shaft.
Pada kendaraan 4WD atau AWD, front axle shaft maupun
rear axle shaft sebagai driving axle shaft.
2) Poros Penggerak Roda Belakang/ Rear Axle Shaft
Roda belakang umumnya menumpu beban lebih berat
daripada roda depan, sehingga konstruksi poros penggerak
rodanya juga relatif lebih kuat. Pemasangan poros akan
dipengaruhi oleh tipe/ jenis suspensi yang digunakan. Secara
39
Drive Shaft
Lower Arm
umum tipe suspensi yang digunakan ada dua kelompok yaitu
suspensi bebas (independent) dan suspensi kaku (rigid).
Pada tipe suspensi independent, jenis axle shaft yang
digunakan umumnya adalah tipe melayang (floating shaft
type), dimana poros bebas dari menumpu beban dan bebas
bergerak mengikuti pergerakan roda akibat suspensi
kendaraan.
Gambar 46. Konstruksi Poros Melayang
Pada suspensi rigid pada umumnya menggunakan tipe poros
memikul dimana axle shaft diletakkan di dalam axle housing,
yang dipasangkan berkaitan melalui bantalan.
Gambar 47. Konstruksi Poros Memikul
Poros memikul terdiri dari 3 tipe, yaitu : full floating, threequarter
floating dan semi-floating. Nama tipe poros tersebut
40
mencerminkan kebebasan poros untuk tidak menyangga
beban kendaraan. Full floating berarti sepenuhnya poros
tidak menyangga beban, three-quarter floating berati ¾
beban kendaraan tidak ditumpu oleh poros (poros
menyangga ¼ beban) sedangkan semi floating berarti poros
hanya menumpu ½ beban.
Gambar 48. Konstruksi poros memikul model full floating
Pada tipe ini bantalan-bantalan dipasangkan diantara
haousing dan wheel hub, sedangkan roda dipasangkan pada
hub. Beban kendaraan sepenuhnya ditumpu oleh axle
housing, sedangkan poros roda tidak memikul beban, hanya
berfungsi menggerakkan roda. Model ini sangat bagus untuk
kendaraan berbeban berat.
Gambar 49. Konstruksi poros memikul model three-quarter floating
Pada tipe three-quarter floating, hanya dipasangkan sebuah
bantalan di antara axle housing dan wheel hub. Roda
dipasangkan langsung pada poros roda. Hampir seluruh
41
beban ditumpu oleh housing. Gaya lateral (lateral force) baru
akan bekerja pada poros/ axle bila kendaraan membelok.
Gambar 50. Konstruksi poros memikul model semi floating
Tipe semi floating banyak dipakai pada kendaraan ringan.
Hampir seluruh beban kendaraan dipikul oleh axle shaft,
demikian juga gaya lateral (lateral force) pada saat
kendaraan membelok. Bantalan dipasangkan diantara axle
housing dan axle shaft, sedangkan roda dipasangkan
langsung pada axle shaft.
3) Poros Penggerak Roda Depan/ Front Axle Shaft
Pada kendaraan FF front axle berfungsi sebagai penggerak.
Konstruksi Front axle dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 51. Konstruksi Poros Penggerak Depan
Poros penggerak roda adalah poros yang berfungsi sebagai
pemindah tenaga dari differential ke roda-roda. Pada
Intermediate Shaft
42
kendaraan tipe FF, poros penggerak harus memiliki 2
persyaratan, yaitu : harus mempunyai mekanisme yang
menyerap perubahan panjang dari poros penggerak yang
mengiringi gerakan roda naik dan turun; harus dapat
memelihara operasi sudut yang sama ketika roda depan
dikemudikan dan harus memutar roda saat membentuk
kecepatan karena roda depan digunakan secara bersamaan
untuk pengemudian dan pemindahan tenaga.
Komponen/ sistem yang digunakan untuk memenuhi
persyaratan tersebut adalah universal joint tipe constant
velocity joint (CV Joint)
Constant velocity joint adalah tipe universal joint yang
memungkinkan untuk digunakan pada kendaraan FF, dimana
poros mampu meneruskan tenaga sambil terjadi perubahanperubahan
sudut. Ada dua jenis CV joint, yaitu : birfield joint
dan tripod joint.
Gambar 52. Konstruksi Birfield Joint
Konstruksi birfield joint adalah seperti gambar di atas. Inner
race dipasang ke dalam outer race yang berbentuk mangkuk
dengan menahan enam bola baja oleh suatu rangka.Tipe ini
43
banyak digunakan karena konstruksinya yang sederhana dan
kapasitas pemindahannya cukup besar.
Gambar 53. Konstruksi Tripod Joint
Sebuah tripod dengan tiga buah trunnion shaft pada plane
yang sama. Tiga buah roller dipasangakan pada trunnion ini
dan ke masing-masing roller dipasangkan tiga tulip dengan
celah paralel. Konstruksi ini juga sederhana dan umumnya
dapat bergerak dalam arah axial.

Service Poros Penggerak Roda


Macam-macam Sistem Pemindah Tenaga
Kendaraan dapat berjalan/ bergerak karena ada system yang memindahkan tenaga/ momen/ putaran dari mesin ke roda-roda. Axle shaft atau poros penggerak roda merupakan poros pemutar roda yang dihubungkan dengan gardan (differensial).
Kendaraan ditinjau dari sistem pemindah tenaganya dikelompokkan menjadi beberapa tipe yaitu :
1. Front Engine Rear Drive (FR)
Kendaraan dengan mesin di depan dan menggerakkan roda belakang dinamakan tipe Front Engine Rear Drive (FR). Komponen-komponen system pemindah tenaga meliputi : kopling (clutch), transmisi (transmission), drive shaft/ propeller shaft, differential, rear axle dan roda (wheel).
Kendaraan mesin depan penggerak roda belakang (FR)
Gambar 1. Kendaraan mesin depan penggerak roda belakang (FR)
2. Front Engine Front Drive (FF)
Kendaraan dengan mesin di depan dan menggerakkan roda depan dinamakan tipe Front Engine Front Drive (FF). Komponen-komponen sistem pemindah tenaga meliputi : kopling (clutch), transmisi (transmission), differential, front axle dan roda (wheel).
Kendaraan mesin depan penggerak roda depan (FF)
Gambar 2. Kendaraan mesin depan penggerak roda depan (FF)
3. Rear Engine Rear Drive (RR)
Kendaraan dengan mesin di belakang dan menggerakkan roda belakang dinamakan tipe Rear Engine Rear Drive (RR). Pemindah tenaga kendaraan tipe ini sama dengan tipe Front Engine Front Drive (FF). Komponen-komponen sistem pemindah tenaga meliputi: kopling (clutch), transmisi (transmissions),differentialrear axle dan roda (wheel)
4. Four Wheel Drive (FWD)
Kendaraan dengan mesin menggerakkan roda depan dan roda belakang dinamakan tipe Four Wheel Drive atau All Wheel Drive (FWD atau 4WD atau AWD). Komponen -komponen sistem pemindah tenaga meliputi : kopling(clutch), transmisi (transmission), transfer, dan terbagi menjadi dua. Pertama ke front drive shaft (front propeller shaft), front differentialfront axle dan roda depan (front wheel), sedangkan yang kedua ke rear drive shaft, rear differentialrear axle dan roda belakang (rear wheel)
Kendaraan mesin depan penggerak roda depan dan belakang (4WD)
Gambar 3. Kendaraan mesin depan penggerak roda depan dan belakang (4WD)



Jenis Poros Penggerak Roda (Axle Shaft)
1. Poros Penggerak Roda Belakang
Roda belakang umumnya menumpu beban lebih berat dari pada roda depan, sehingga konstruksi poros penggerak rodanya relatif lebih kuat. Pemasangan poros akan dipengaruhi oleh jenis suspensi yang digunakan. Jenis suspensi yang digunakan ada dua kelompok yaitu suspensi independent dan suspensi rigid.
Pada tipe suspensi independent, jenis axle shaft yang digunakan umumnya adalah tipe melayang (floating shaft type), dimana poros bebas dari menumpu beban dan bebas
bergerak mengikuti pergerakan roda akibat suspensi kendaraan.
Konstruksi Poros Melayang
Gambar 5.  Konstruksi Poros Melayang
Pada suspensi rigid umumnya menggunakan tipe poros memikul dimana axle shaftdiletakkan di dalam axle housing, yang dipasangkan berkaitan melalui bantalan.
Konstruksi Poros Pemikul
Gambar 6. Konstruksi Poros Pemikul
Poros pemikul terdiri dari 3 tipe, yaitu :
a. Tipe Full Floating 
Pada tipe ini poros axle sepenuhnya tidak menyangga beban. Beban sepenuhnya ditumpu oleh axle housing dan axle shaft hanya menggerakkan roda.

Poros pemikul tipe full floating
Gambar 7. Poros pemikul tipe full floating
b. Tipe three-quarter floating
Pada tipe three-quarter floating, hanya dipasangkan sebuah bantalan di antara axle housing dan wheel hub. Roda dipasangkan langsung pada poros roda. Hampir seluruh beban ditumpu oleh housing. Gaya lateral (lateral force) baru akan bekerja pada poros/ axle bila kendaraan membelok.
Poros pemikul tipe three-quarter floating
Gambar 8. 
Poros pemikul tipe three-quarter floating
c. Tipe Semi Floating
Tipe semi floating banyak dipakai pada kendaraan ringan. Hampir seluruh beban kendaraan dipikul oleh axle shaft, demikian juga gaya lateral (lateral force) pada saat kendaraan membelok.
Poros pemikul tipe Semi floating
Gambar 9. Poros pemikul tipe Semi floating
2. Poros Penggerak Roda Depan
Poros penggerak roda depan harus memiliki 2 persyaratan, yaitu :
  1. Mempunyai mekanisme yang menyerap perubahan panjang dari poros penggerak yang mengiringi gerakan roda naik dan turun
  2. Dapat memelihara operasi sudut yang sama ketika roda depan dikemudikan dan harus memutar roda saat membentuk kecepatan karena roda depan digunakan secara bersamaan untuk pengemudian dan pemindahan tenaga.
Konstruksi Poros penggerak roda depan
Gambar 10. Konstruksi Poros penggerak roda depan


Panjang Poros Penggerak
Panjang poros penggerak kiri dan kanan dapat sama maupun berbeda tergantung lokasi mesin dan transaxle. Apabila poros penggerak panjangnya tidak sama, maka akan mudah terjadi getaran yang menimbulkan bunyi dan kurang nyaman. Hal itu diatasi dengan beberapa metode yang antara lain :
  • Dynamic damper type
Dynamic damper dipasangkan pada poros penggerak melalui bantalan karet. Saat poros penggerak bergetar atau terpuntir maka damper yang diberikan cenderung untuk berputar pada kecepatan konstan, sehingga bantalan karet menyerap getaran dan puntiran.
Gambar. Dynamic Damper

    • Hollow shaft type
    Gambar. Hollow shaft
      • Intermidiate shaft

      Tipe ini digunakan pada kendaraan yang perbedaan jarak dua poros penggeraknya besar, sistem kemudinya menjadi tidak stabil dan mudah memuntir. Saat akselerasi, bagian depan kendaraan terangkat, sudut joint poros menjadi besar sehingga momen yang ditimbulkan menyebabkan roda tidak stabil dan sulit untuk dikendalikan.
      Gambar. Poros Penggerak Depan Tanpa Intermediate Shaft
      Gambar. Poros Penggerak Depan Intermediate Shaft


Pemeriksaan, service dan perbaikan poros penggerak roda
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui adanya kerusakan dan penyebab kerusakan pada axle shaft. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara berkala dan rutin untuk mencegah kerusakan yang lebih banyak.
Gambar. Konstruksi lengkap poros penggerak roda depan
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain :
Pemeriksaan bantalan dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
  • Melepas kaliper dan piringan rem
  • Periksa kebebasan bantalan dalam arah axial dengan dial indikator. Kebebasan makasimum adalah 0.05 mm.
  • Setelah dipastikan bantalan masih baik, pasang kembali kaliper dan piringan rem.
Jika kebebasan terlalu besar ganti bantalan dengan yang baik, dengan melakukan pembongkaran. Pembongkaran dan pemeriksaan-pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
  • Lepaskan cotter pin, penutup pengunci mur dan mur pengunci bantalan
  • Mengeluarkan minyak pelumas roda gigi differential
  • Melepaskan hubungan tie rod end dengan steering knuckle, dengan menggunakan tracker ball joint.
  • Melepas steering knuckle dari lower arm, dengan melepas baut pemegangnya
  • Melepas poros penggerak depan, dengan memukulnya dengan palu plastik dan memegangnya dengan tangan.
Setelah unit poros penggerak terlepas lakukan pemeriksaan sebagai berikut :
  • Periksa dan perhatikan bahwa harus tidak ada kebebasan dalam outboard joint
  • Periksa dan perhatikan bahwa inboard joint meluncur dengan lembut dalam arah axial
  • Periksa dan perhatikan bahwa kebebasan arah radial dari inboard joint tidak terlalu besar
    • Periksa kerusakan boot.
    • Pemeriksaan panjang standar (spec. lihat manual book)
    Untuk penggantian bantalan dapat dilakukan dengan melepas dan membongkar axle hub dengan langkah sebagai berikut :a). Melepas kaliper dan melepas piringan rem (disc brake)
    b). Melepas mur/baut pengikat steering knuckle ke shock absorber
    c). Melepas unit axle hub
    d). Membongkar unit axle hub
    e). Mengganti bantalan
    f). Merakit unit axle hub
    g). Memasang axle hub depan


Pemeriksaan, service dan perbaikan poros penggerak roda
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui adanya kerusakan dan penyebab kerusakan pada axle shaft. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara berkala dan rutin untuk mencegah kerusakan yang lebih banyak.
Gambar. Konstruksi lengkap poros penggerak roda depan
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain :
Pemeriksaan bantalan dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
  • Melepas kaliper dan piringan rem
  • Periksa kebebasan bantalan dalam arah axial dengan dial indikator. Kebebasan makasimum adalah 0.05 mm.
  • Setelah dipastikan bantalan masih baik, pasang kembali kaliper dan piringan rem.
Jika kebebasan terlalu besar ganti bantalan dengan yang baik, dengan melakukan pembongkaran. Pembongkaran dan pemeriksaan-pemeriksaannya adalah sebagai berikut :
  • Lepaskan cotter pin, penutup pengunci mur dan mur pengunci bantalan
  • Mengeluarkan minyak pelumas roda gigi differential
  • Melepaskan hubungan tie rod end dengan steering knuckle, dengan menggunakan tracker ball joint.
  • Melepas steering knuckle dari lower arm, dengan melepas baut pemegangnya
  • Melepas poros penggerak depan, dengan memukulnya dengan palu plastik dan memegangnya dengan tangan.
Setelah unit poros penggerak terlepas lakukan pemeriksaan sebagai berikut :
  • Periksa dan perhatikan bahwa harus tidak ada kebebasan dalam outboard joint
  • Periksa dan perhatikan bahwa inboard joint meluncur dengan lembut dalam arah axial
  • Periksa dan perhatikan bahwa kebebasan arah radial dari inboard joint tidak terlalu besar
    • Periksa kerusakan boot.
    • Pemeriksaan panjang standar (spec. lihat manual book)
    Untuk penggantian bantalan dapat dilakukan dengan melepas dan membongkar axle hub dengan langkah sebagai berikut :a). Melepas kaliper dan melepas piringan rem (disc brake)
    b). Melepas mur/baut pengikat steering knuckle ke shock absorber
    c). Melepas unit axle hub
    d). Membongkar unit axle hub
    e). Mengganti bantalan
    f). Merakit unit axle hub
    g). Memasang axle hub depan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar